Highland coffee, grown in the shade
Kopi dataran tinggi, tumbuh di bawah naungan
Aceh's Gayo highlands sit between 1,100 and 1,700 meters above sea level, around the volcanic basin of Lake Laut Tawar. The soil is young and mineral-rich; the canopy above every plot is shade — Dadap and Lamtoro trees planted generations ago. It's some of the most naturally suited coffee-growing land in Sumatra, farmed in small, family-held plots for over a century.
Our farms grow two varieties suited to this terrain: Gayo Ateng and Tim Tim, cupped and graded to Specialty and Grade 1 standards. Niru Qoffee works directly with farmer groups across the highlands — coordinating harvest timing, processing method, and quality control from cherry to green bean, across Wet-Hulled, Full Washed, Natural, Honey, and Wine processes. Every lot is traceable back to the farmer group, and often the individual farm, that grew it.
Dataran Tinggi Gayo di Aceh berada pada ketinggian 1.100 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut, mengelilingi cekungan vulkanik Danau Laut Tawar. Tanahnya masih muda dan kaya mineral; setiap kebun ternaungi pohon Dadap dan Lamtoro yang ditanam sejak beberapa generasi lalu. Ini salah satu lahan yang paling sesuai untuk kopi di Sumatra, dan telah digarap dalam petak-petak kecil milik keluarga selama lebih dari satu abad.
Kebun kami menanam dua varietas yang sesuai dengan medan ini: Gayo Ateng dan Tim Tim, dicupping dan digrading dengan standar Specialty dan Grade 1. Niru Qoffee bekerja langsung dengan kelompok tani di seluruh dataran tinggi — mengatur waktu panen, metode proses, dan kendali mutu dari ceri hingga green bean, meliputi proses Wet-Hulled, Full Washed, Natural, Honey, dan Wine. Setiap lot dapat ditelusuri kembali ke kelompok tani, bahkan sering kali ke kebun perorangan yang menanamnya.
Hedge-row planting system
Sistem tanam pagar





